
“Dipanggil sekarang (meninggal) juga aku gelem (mau)…” ucap Mbah Giyem pelan sambil menatap kosong ke arah jalan depan rumahnya.
Di usia 86 tahun, Mbah Giyem menjalani hari-harinya seorang diri tanpa suami dan tanpa anak. Sejak sang suami meninggal dunia, hidup Mbah perlahan berubah penuh kesepian dan keterbatasan.
Dulu sekitar 20 tahun lalu, Mbah masih bekerja sebagai buruh tani harian dengan upah Rp35 ribu sehari. Namun setelah kehilangan suaminya, kondisi tubuhnya terus menurun hingga akhirnya ia tak lagi sanggup bekerja.
Kini badan Mbah sudah sangat bongkok dan berjalan pun harus bertumpu pada tongkat kayu. Bahkan untuk melangkah lebih dari beberapa meter saja, tubuh renta itu sudah terlihat begitu kesulitan.
Hari-hari Mbah Giyem kini hanya bergantung pada bantuan tetangga sekitar. Jika tidak ada yang memberi bantuan, Mbah makan nasi sisa sedikit demi sedikit agar tak cepat habis. Lauknya pun sebatas garam….
Kadang Mbah duduk termenung lama di depan rumahnya yang nyaris roboh. Dengan tatapan kosong, ia berkata sedang menunggu suaminya pulang, meski orang yang ditunggu sudah lama meninggalkan dunia.
Tempat tinggal Mbah pun jauh dari kata layak. Lantainya masih tanah, atapnya bocor saat hujan turun, dan tak ada alas tidur yang nyaman untuk tubuh rentanya beristirahat.
Mbah juga tidak memiliki dapur yang layak. Untuk sekadar memanaskan air minum, ia menggunakan tungku kayu bakar sederhana di depan rumahnya.
Di balik segala keterbatasan itu, Mbah sering merasa dirinya hanya menjadi beban bagi orang lain. Padahal di usia senjanya, yang Mbah butuhkan hanyalah tempat tinggal yang aman, makanan yang cukup, dan sedikit rasa ditemani.
Orang Baik, mungkin kita tidak bisa menghapus seluruh kesedihan hidup Mbah Giyem. Tapi setidaknya, bantuan yang kita berikan bisa membuat hari-hari tuanya terasa sedikit lebih hangat dan tidak terlalu sepi.
Ayo salurkan kebaikanmu dengan cara :