
"Saya lapar, cuma punya nasi basi ini," lirih Mbah Suti (73), seorang lansia yang tinggal sebatang kara di rumah tua peninggalan orang tuanya, jauh di tengah hutan.

Sudah lebih dari 15 tahun, nenek malang ini hidup bergantung pada ember plastik kecil yang digunakannya sebagai alat bantu jalan. Sejak terjatuh belasan tahun lalu, ia hampir lumpuh—kakinya melemah dan perlahan-lahan kehilangan fungsinya. Berjalan sejauh tiga meter saja tanpa bantuan sudah menjadi pencapaian terbesarnya.
Dulu, Mbah Suti bekerja sebagai buruh tani harian. Namun sejak tubuhnya melemah, ia tidak lagi sanggup bekerja. Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan hasil hutan, mencari daun ubi, pisang liar, atau umbi-umbian yang masih bisa dimakan. Semua itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit sambil menyeret kakinya, berpegangan pada ember kecil yang selalu menemaninya melintasi tanah hutan.

Karena hidup sendiri tanpa keluarga yang membantu, Mbah Suti kerap disangka orang "nenek tak waras" oleh warga yang sesekali melihatnya.
Padahal, ia hanyalah seorang nenek renta yang berjuang seorang diri di tengah keterbatasan. Ia belum pernah menikah, dan saudara-saudaranya tinggal di kota lain tanpa pernah memberi kabar, apalagi bantuan.
Air bersih pun jadi kemewahan baginya. Karena tak mampu membayar tagihan, aliran air ke rumahnya sering diputus. Untuk minum, ia menampung air hujan seadanya. Bantuan desa berupa beras 10 kg tiap tiga bulan dihemat sebaik mungkin, hingga basi pun tetap dimakan, karena itu satu-satunya yang ia punya.

Sesak di dada dan pusing yang sering datang tak pernah ia obati. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak mampu. Tak ada biaya untuk berobat. Jadi biasanya, ia hanya memaksakan diri tidur, berharap rasa sakitnya reda esok hari.
Di usia senjanya, Mbah Suti hidup dalam keheningan dan keterbatasan, berjuang tanpa siapa pun di sisinya—dengan sisa tenaga, seember plastik, dan harapan yang terus ia jaga.
Mari bersama-sama ulurkan tangan untuk membantu Mbah Suti bertahan hidup dengan kondisinya yang serba terbatas di usia senjanya.